Minggu, 01 April 2018

Mengapa Anak Tak Mau Bercerita?


Dear Parents, bahagia banget nggak sih kalau anak-anak mau berbagi cerita dengan kita? Pengalaman mereka seharian di sekolah, hubungan mereka dengan teman-teman, kegembiraan dan kekecewaan mereka, dan masih banyak lagi. Bagaimana menurut Dear Parents? Kalau buat ibu gembala, mendengarkan cerita dari anak-anak adalah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apa pun.

Tapi tidak semua anak mau bercerita dengan orang tua lho. Tak jarang ibu gembala mendengar keluhan tentang anak yang lebih sering bungkam di hadapan orang tua. Sebenarnya mengapa sih anak tak mau bercerita?


Kalau kita amati, anak-anak sudah menampakkan kecenderungan suka atau tidak suka bercerita sejak kecil. Ada anak yang hobi banget menyampaikan segala yang dialami dan dirasakannya, sampai-sampai sulit menyetopnya; sebaliknya, ada juga yang biar dipancing seperti apa pun aliran ceritanya seret, bahkan macet. Yah, masing-masing anak memang berbeda kan?

Walaupun demikian, tidak berarti anak yang sewaktu kecilnya hobi bercerita akan terus betah bercerita dengan orang tua. Begitu juga anak yang semasa kecil enggan berbagi cerita, bukan jaminan akan terus bersikap begitu setelah beranjak besar.

Salah satu faktor yang menentukan apakah anak mau bercerita atau justru bungkam terhadap orang tua adalah sikap kita dalam menanggapi cerita anak. Ini cukup sering luput dari perhatian kita. Masing-masing orang tua punya kecenderungan sendiri dalam merespon cerita anak. Ada yang merespon dengan antusias, ada mendengarkan sambil lalu. Ada yang terburu-buru memotong cerita anak karena ingin segera menasihati. Ada juga yang sering memarahi anak gara-gara ceritanya.

Satu hal lagi yang sering luput dari perhatian orang tua adalah kebutuhan anak untuk dihargai privasinya. Anak tak suka jika cerita yang dipercayakan kepada orang tua bocor ke mana-mana. Tersebarnya cerita mereka, apalagi sampai berkali-kali, mengakibatkan anak-anak kapok berbagi cerita dengan orang tua.

Nah, Dear Parents, bagaimana dengan anak-anak kita? Bolehlah kita intip dari kacamata mereka. Andai kita ada di posisi anak-anak ... amankah berbagi cerita dengan orang tua? Terjaminkah bahwa cerita itu tak akan menyebar ke orang-orang? Nyamankah dengan respon yang diterima? Apakah cerita kita didengar sambil lalu, atau dengan penuh perhatian? Apakah dengan bercerita justru mengakibatkan kita kena marah atau dipersalahkan?

Hmmm, bagaimana hasilnya setelah kita menempatkan diri di posisi anak-anak? Aman dan nyamankah untuk bercerita dengan orang tua? Kalau iya, puji syukur. Kalau tidak, lalu bagaimana?

Dear Parents, meskipun tanggapan orang tua bukan satu-satunya faktor yang menentukan, akan sangat baik untuk mawas diri jika menyadari ada yang kurang pas dari sikap kita sebagai orang tua. Tidak pernah rugi untuk berkaca lagi. Sering kali orang tua tidak sadar bahwa anak-anak mengamati dan memelajari respon kita sejak mereka kecil.

Yah, di mana-mana tidak ada orang tua yang sempurna. Setiap orang tua pernah bertindak kurang tepat di dalam menjalankan perannya. Kabar baiknya, itu masih bisa diperbaiki. Modal awalnya adalah menyadari akan hal ini. Setelah sadar, perlu tekad kuat untuk memerbaiki diri. Sehabis itu, ya mulai melakukannya. Lengkap dengan proses jatuh-bangunnya.

Semua itu juga ibu gembala alami bersama anak-anak. Butuh proses panjang sebelum anak-anak memercayakan cerita-cerita mereka, sampai hal-hal yang paling pribadi, kepada ibu g. Kepercayaan itu tak bisa ibu g raih dalam sebulan dua bulan. Prosesnya melibatkan hitungan tahun.

Lalu bagaimana kisahnya sampai anak-anak mau bicara dari hati ke hati dengan ibu gembala? Cerita ini akan ibu g bagikan di artikel berikutnya, ya? So, bye for now ... selamat mendampingi dan mendidik buah hati, Dear Parents.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar